Buku Memahami Film edisi 2

Videografer Amatir vs Profesional

profesional-vs-amatir-wayanwidharma.comMemahami Videografer Amatir vs Profesional – Postingan ini adalah lanjutan dari postingan A Beginner’s Guide to Creative Videography yang saya kutip dari blog videografi.wordpress.com. Selamat menyimak pembahasan videografer amatir dan profesional.

Videografer Amatir atau Videografer Profesional, sebetulnya hanyalah istilah dan status semata.

Sayangnya, seolah ada anggapan jika videografer amatir hasilnya pasti tidak bagus.

Dan karena merasa hanya amatiran, seseorang merasa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus.

Sebaliknya, ada anggapan bahwa videografer profesional pasti bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Belum tentu seperti itu.

Dalam dunia videografi – sebagaimana berlaku juga dalam bidang lain –

profesionalisme sebetulnya lebih merupakan prinsip dan itikad bagaimana kita bekerja dan berkarya secara sempurna dengan kaidah, mekanisme dan standar kualifikasi tertentu.

Para videografer profesional yang menjadikan videografi sebagai sebuah profesi, atau setidaknya yang menyebut dirinya videografer profesional, sebetulnya belum tentu menghasilkan gambar-gambar yang bagus (banyak contoh bisa dilihat di layar televisi, khususnya televisi lokal).

Sebaliknya, meski hanya ditujukan untuk kepentingan nonprofit dan sekedar kesenggangan, belum tentu seorang videografer amatir tidak bisa menciptakan gambar-gambar dengan citarasa profesional.

Artinya, professional look bisa didapat oleh siapa saja.

Kemudahan yang disediakan oleh perkembangan teknologi videografi digital, membuat setiap orang mampu (atau merasa mampu) melakukan apa saja selama piranti tersedia, meski terkadang mengabaikan atau tidak menyadari prinsip-prinsip dasarnya, baik secara teknis maupun estetis.

Begitu juga dalam hal piranti videografi.

Profesionalisme tidak dibedakan oleh jenis kamera yang digunakan

Apakah karya videografi Anda akan berkesan amatir atau profesional, sangat tidak tergantung pada jenis dan standar kamera yang digunakan.

Piranti hanya membatasi untuk apa hasil akhir akan digunakan. Inipun tidak mutlak benar.

Dalam kondisi tertentu (dalam aktifitas jurnalistik, misalnya), terkadang tujuan profesional dapat dipenuhi dengan piranti videografi amatir (bahkan oleh videografer amatir dengan teknik videografi amatiran).

Sebaliknya, meski hanya menggunakan kamera amatiran, Anda tetap bisa menghasilkan gambar-gambar yang menarik dengan citarasa profesional.

Perlu Referensi? Silahkan isi kolom dibawah untuk melihat referensi dari artikel ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 10 =